
(SeaPRwire) – By: Elena Rostova
Larangan media sosial untuk remaja bukan langkah perlindungan yang efektif. Tanpa kepercayaan, akuntabilitas keluarga, dan literasi digital, larangan ini sering membalikkan hasil. Anak-anak tidak hilang dari internet, melainkan pindah ke ruang yang kurang aman—menggunakan VPN, akun anonim, atau platform yang kurang dipantau..
Pemerintah Inggris melarang akses media sosial untuk pengguna di bawah 16 tahun. Pavel Durov mengkritik keputusan ini, mengatakan larangan akan mendorong remaja ke lingkungan digital dengan risiko lebih tinggi menemukan konten ilegal. Menurut Childnet, 38% anak di UK usia 8-17 telah menggunakan VPN; 16% untuk melewati kontrol orang tua, 16% untuk menghindari batasan sekolah. Di Rusia, Durov klaim 95% remaja menggunakan VPN untuk Telegram. Florida menuntut TikTok karena melanggar hukum keselamatan anak—pengguna di bawah 14 tidak boleh memiliki akun, 15-16 membutuhkan izin orang tua. TikTok dituduh menyesatkan dengan menyatakan tidak ada konten “dewasa” seperti nuditas atau narkoba.
Diskusi keselamatan online anak harus dimulai dari rumah. Hubungan sehat, kepercayaan, dan tanggung jawab keluarga adalah dasar. Banyak orang tua tidak tahu apa yang dilakukan anak mereka online. Jika orang tua sendiri tidak memahami literasi digital, batasan akan sia-sia. Anak-anak akan belajar menyembunyikan aktivitas—menghapus riwayat pencarian, membuat akun anonim. Larangan berlebihan menciptakan jarak dan menghambat komunikasi. Tanggung jawab keselamatan online terletak pada orang dewasa, bukan remaja. Orang tua harus belajar mendengarkan, bukan hanya melarang. Buat ruang aman agar anak merasa nyaman berbagi pengalaman online, termasuk pesan yang absurd atau berbahaya.
Author bio: Elena Rostova, pakar dasar awam spesialis dalam penilaian pematuhan untuk kerajaan dan dana kedaulatan global.
